*Diantara Kemuliaan Wanita, Perempuan dan Ibu*
Orang miskin belagak kaya, dan orang jaya belagak miskin, keduanya seperti membuktikan bahwa hukum alam itu memang dibuat berpasang-pasangan seperti lelaki dan perempuan. Kendati dalam sejarahnya pun narasi ini pun telah membuktikan bahwa lelaki itu ada terlebih dahulu dibanding perempuan. Kisah Adam dan Hawa agaknya bisa memperkuat alasan tersebut, walau kemudian yang lebih banyak disebut dalam perbendaharaan kata adalah kaum wanita yang sesungguhnya. Hingga seolah-olah kaum lelaki tidak begitu penting dibanding kaum wanita.
Ide pemikiran yang terkesan sektarian ini boleh jadi dipengaruhi oleh Sio Kambing dari mereka yang berbintang Aries pada bulan April ini yang jadi dominan menjadi miliknya kaum wanita. Padahal, tokoh wanita Indonesia tidak cuma Raden Ajeng Kartini semata, ada juga Rasuna Said, Tjut Nya Dhien bahkan Panglima Laut yang maha perkasa Malahayati yang tak pernah gentar menghadapi kaum penjajah yang datang ke Tanah Rencong semula sebagai kaum pedagang. Tapi karena tamak dan rakus laku berhasrat untuk menguasai semuanya. Tak hanya rempah-rempah, tapi juga jiwa dan raga leluhur nenek moyangku yang ada di Nusantara. Dan Aceh tidak pernah mau dan tidak bisa dijajah. Ingat, pesan terakhir Tjut Nya’ Dhien ketika hendak ditangkap tentara Belanda, beliau menolak untuk menyerah. Sebab sejarah bangsa nusantara todak boleh menyerah, meski harus kalah.
Begitulah kisah perlawanan perempuan bangsa nusantara, sehingga Tjut Nya’ Dhien siap di asingkan ke Jawa Barat hingga wafat.
Kisah tentang Keratuan yang ada di Lampung misalnya bermula dari Umpu Sairunting hingga kemudian menjadi Raja di Skala Berak, jelas mengisyaratkan metafora dari kemuliaan sosok perempuan sehingga adanya Keratuan Ratu Pemanggilan, Keratuan Dipuncak, Keratuan Pugung, Keratuan Pemanggilan, Keragtuan Darah Putih dan Keratuan Balaw. Dan pertanda dari kemuliaan kaum wanita yang berpuncak pada sebutan atau julukan Ibu, terbersit dalam sejumlah istilah. Mulai dari Ibu Kota, Ibu Tiri hingga Ibu Pertiwi yang penuh puja-puji dan sanjungan dalam beragam jenis nyanyian, seakan menjadi semacam mantra untuk memperoleh kemuliaan yang setara dan berkah sampai waras dan selamat dalam arti lahir maupun batin.
Sosok seorang Ibu, adalah cermin kasih dan sayang yang tidak terbilang. Karena itu dalam keyakinan agama – percaya bahwa do’a seorang bagi anak-anaknya sangat dipercaya akan langsung didengar oleh Tuhan, meski lirih suaranya dan juga diucapkan dengan terbata-bata. Begitu juga sebaliknya, kutukan atau sumpah dari seorang Ibu dipercaya sungguh dan sangat mujarab. Karena itu, betapa celakanya seorang anak yang durhaka terhadap Ibundanya yang patut dan wajib untuk dicintai serta disayangi.
Begitulah nilai-nilai sakral dan spiritual dari sosok seorang wanita yang tak semua bisa menjadi seorang Ibu. Demikian juga dengan sosok seorang perempuan – yang mungkin lebih dewasa sifat dan wataknya bahkan mungkin juga bijak – belum tentu layak dan pantas berjuluk Ibu. Karena sosok seorang Ibu itu sungguh mulia, seperti warga bangsa Indonesia saat hidmat menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini. (HD)
Sumber: (Banten, 10 April 2026 Jakob Ereste)






























