Lumban Suhi Suhi Toruan, warta.in – Dalam perjalanan menuju Alngit Desa Lumban Suhi Suhi Toruan Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir, setelah seminggu mendampingi ayahanda OH Simarmata SH Opung Reiner Parlindungan di RS Elisabeth Medan, Dr drh Rotua Wendeilyna Simarmata MSi (CMed CPP CIJ CPW) sepakat dengan pendapat bahwa Setiap Orang Memiliki Jalannya Sendiri, dan kini membagikannya untuk para pembaca media online ini
Pernahkah kita merasa hidup orang lain tampak lebih mudah?
Melihat teman yang kariernya melesat, keluarga yang terlihat harmonis, usaha yang berkembang, atau anak-anak yang tampak berhasil, kadang tanpa sadar hati mulai bertanya, Mengapa hidupku tidak seperti mereka ?
Namun, semakin saya menjalani kehidupan, semakin saya menyadari bahwa yang kita lihat hanyalah “halaman depan” dari kisah hidup seseorang.
Kita tidak melihat malam-malam ketika mereka menangis.
Kita tidak melihat kegagalan yang pernah mereka sembunyikan.
Kita tidak melihat doa-doa yang mereka panjatkan dalam diam, ataupun perjuangan panjang yang membentuk mereka menjadi seperti sekarang.
Begitu pula orang lain tidak mengetahui seluruh perjalanan yang sedang kita tempuh.
Tuhan menulis kisah setiap orang dengan cara yang berbeda. Tidak semua orang memulai dari titik yang sama, berjalan dengan kecepatan yang sama, atau tiba pada waktu yang sama.
ena itu, saya belajar untuk tidak lagi sibuk membandingkan perjalanan hidup, melainkan mensyukuri setiap langkah yang sedang Tuhan percayakan kepada saya.
Damai hadir ketika kita berhenti membandingkan jalan kita dengan orang lain, lalu memilih setia melangkah di jalan yang Tuhan sediakan bagi kita.
Dalam psikologi, kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain dikenal sebagai *social comparison*. Perbandingan ini memang dapat menjadi sumber motivasi, tetapi jika dilakukan terus-menerus, justru dapat menumbuhkan rasa kurang, iri hati, dan kehilangan syukur.
Pertumbuhan yang sehat bukan diukur dari seberapa jauh kita dibandingkan orang lain, melainkan dari seberapa jauh kita bertumbuh dibandingkan diri kita sendiri.
Ketika kita fokus pada proses, bukan perlombaan, kita lebih mudah menikmati perjalanan hidup dan menghargai setiap kemajuan, sekecil apa pun.
Hari ini, berhentilah sejenak dari membandingkan diri.
Tanyakan kepada diri sendiri:
*”Apa satu hal yang sudah bertumbuh dalam diriku dibandingkan satu tahun yang lalu?”*
Bersyukurlah atas kemajuan itu, lalu teruslah melangkah dengan tenang. Tuhan tidak meminta kita menjadi seperti orang lain. Dia mengundang kita menjadi versi terbaik dari diri yang Dia ciptakan.
*”Jangan ukur hidupmu dengan langkah orang lain. Ukurlah dengan kesetiaanmu untuk terus bertumbuh di jalan yang Tuhan percayakan.”*
Setiap langkah membawa kita semakin mampu *menyalakan harapan, menumbuhkan makna, dan menjalani hidup dengan bijaksana.(Sumber : Just Believe. Esensi— Ani Fegda*






























