Warta.in, NIAS BARAT – Tahun 2026 sudah berjalan 8 bulan. Namun di Kabupaten Nias Barat, 12 program unggulan yang menjadi visi misi Bupati Eliyunus Waruwu *diduga gagal total* di lapangan.
Alih-alih menghadirkan perubahan, Pemkab Nias Barat justru meninggalkan deretan proyek mangkrak, keterlambatan anggaran, dan pelayanan dasar yang tidak berjalan.
Kekecewaan mendalam ini disuarakan warga. Salah seorang pelaku usaha lokal di Nias Barat menegaskan bahwa roda pemerintahan saat ini hanya berjalan di atas kertas tanpa memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan warga.
“Masyarakat Nias Barat hari ini seperti membeli kucing dalam karung. Kami hanya disuapi janji manis setiap hari, sementara di lapangan, program-program strategis bupati rontok satu per satu. Ini bukan sekadar kegagalan administratif, ini adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat,” ujarnya, Senin (11/8/2026).
12 Program Yang Diduga Gagal Total:
1. Pengadaan Bibit Babi Dana Desa Ketapang TA 2025 via Perumda Tanomo*: Diduga gagal total. Sejumlah desa melaporkan bantuan ternak babi justru mati sebelum memberikan hasil.
2. Pembukaan Lahan Sawah Antar-Kecamatan*: Masih berupa “proyek di awan-awan” tanpa realisasi fisik di lapangan.
3. Perkebunan Jagung Ketahanan Pangan 2025*: Pengeluaran anggaran di berbagai desa terbukti jauh lebih besar pasak dari pada tiang dibanding hasil panen.
4. Pengadaan Bibit Unggul*: Hingga Agustus 2026, bibit yang dijanjikan belum kunjung didistribusikan kepada petani.
5. Jalan Alternatif Sisobawino – Hilibadalu – Hilisangawola*: Pembangunan infrastruktur krusial ini mandek dan tidak selesai.
6. Keterlambatan Pencairan Dana Desa*: Sudah memasuki bulan Agustus, namun pencairan baru menyentuh Tahap 1, melumpuhkan sirkulasi ekonomi desa.
7. Mangkraknya 3 Proyek IPA Air Bersih TA 2025*: Proyek Instalasi Pengolahan Air di Desa Hiliuso Moi, Desa Lahagu, dan Desa Bawozamaiwo tidak dapat difungsikan. Air bersih masih menjadi mimpi bagi warga.
8. Penelantaran Aset RSU Pratama Lologolu*: Gedung dan fasilitas medis milik Pemda dibiarkan menganggur dan tidak dioperasikan.
9. Dugaan Mark-Up RSU Cerah Medika TA 2025*: Proyek dengan anggaran fantastis ini belum selesai dan memicu kecurigaan publik terkait indikasi korupsi.
10. *Kompleks Wisata Kamadu Beach Menjadi Pajangan*: Restoran serta fasilitas kolam renang milik Pemda telantar tanpa pengelolaan.
11. *Injeksi Dana Mubazir Perumda Tanomo*: Sudah dua tahun disuntik dana APBD, BUMD ini gagal menyumbang Pendapatan Asli Daerah dan gagal membuka lapangan kerja.
12. *Penerbitan SPK PPPK Angkatan Ke II*: Belum kunjung dikeluarkan dan PPPK-PW sudah 8 bulan belum kunjung dapat gajian.
Di saat miliaran rupiah aset daerah dibiarkan membusuk menjadi pajangan, warga Hiliuso Moi, Lahagu, serta Bawozamaiwo harus menjerit demi setetes air bersih.
Sebuah pertanyaan besar wajib kita gantungkan di depan kantor bupati: *Untuk siapa sebenarnya APBD Nias Barat ini bekerja? Untuk kemakmuran rakyat, atau hanya untuk memperkaya segelintir elite di atas panggung janji?
“Kegagalan sistemik di 12 sektor ini bukan lagi sekadar masalah teknis keterlambatan proyek. Ini adalah krisis multidimensi yang berdampak langsung pada dapur ribuan keluarga di Nias Barat.”
Publik kini menuntut transparansi penuh, audit BPK, dan pertanggungjawaban nyata dari Bupati Eliyunus Waruwu sebelum sisa waktu jabatannya habis tak berbekas.
Reporter: tim Warta.in
Editor: Red
8BulanGagal SkandalAPBDNisBarat AuditBPK NiasBarat WartaIn





























