Warta.in-Rejang Lebong.
Ancaman puncak musim kemarau pada Agustus 2026 yang diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) langsung direspons dengan langkah mitigasi cepat oleh Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Kabupaten Rejang Lebong. Mengedepankan prinsip “sedia payung sebelum hujan”, jajaran Distankan kini tengah memasang kuda-kuda untuk memastikan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani tetap aman.
Meski penurunan debit air di sejumlah sungai dan saluran irigasi sentra produksi padi mulai terlihat, Kepala Distankan Rejang Lebong, Suradi Ripai, memastikan belum ada lahan garapan masyarakat yang mengalami kekeringan. Baginya, situasi ini justru menjadi jendela waktu yang krusial untuk bergerak.
“Alhamdulillah, hingga detik ini hamparan sawah kita masih aman dan belum ada laporan kekeringan. Namun, pantang bagi kita untuk terlena. Pemerintah daerah harus hadir lebih awal untuk memastikan para petani kita tidak berjuang sendirian menghadapi anomali cuaca ini,” tegas Suradi dalam keterangannya, Rabu.
Aksi Taktis Lindungi Lumbung Beras Daerah
Sebagai pemimpin yang memahami dinamika di lapangan, Suradi tidak sekadar menebar imbauan. Ia langsung menginstruksikan seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk turun gunung memantau kondisi riil setiap jengkal lahan di wilayah binaan secara berkala. PPL diwajibkan menjadi garda terdepan pendamping petani di masa kritis ini.
Tak hanya mengandalkan tenaga manusia, langkah konkret di tingkat birokrasi juga dipacu. Distankan Rejang Lebong diketahui telah menyodorkan proposal pengadaan 64 unit mesin pompa air kepada Kementerian Pertanian.
Fasilitas vital ini diproyeksikan untuk mengamankan suplai air di kawasan lumbung beras utama Rejang Lebong yang membentang di Kecamatan Curup Selatan, Selupu Rejang, Curup Utara, Kecamatan Curup, hingga wilayah pendukung lainnya.
Edukasi Bertani Cerdas Dengan Palawija
Selain penyiapan infrastruktur, Distankan juga mengedukasi masyarakat mengenai manajemen pola tanam yang adaptif. Guna menghindari kerugian akibat gagal panen (puso), para petani diimbau menunda penanaman padi hingga siklus musim penghujan kembali normal. Sebagai solusi, Distankan mendorong optimalisasi lahan dengan tanaman pengganti.
“Jeda tanam padi ini bukan berarti produktivitas harus terhenti. Ini justru momentum emas bagi petani kita untuk beralih sejenak membudidayakan komoditas palawija. Selain lebih irit air, nilai ekonomisnya juga tinggi. Kita ingin petani Rejang Lebong menjadi petani yang cerdas, tangguh, dan adaptif membaca iklim,” papar birokrat yang dikenal proaktif ini.
Lewat kombinasi kesigapan personel di lapangan, lobi bantuan alat pertanian, dan edukasi pola tanam yang tepat guna, Distankan Rejang Lebong optimistis sektor pertanian daerah mampu melewati ujian kemarau tahun ini dengan gemilang.
Pewarta:Tim Redaksi































