Warta.in, Jember — Dentuman musik tradisional menggema di sepanjang jalan Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Ribuan pasang mata tertuju pada iring-iringan peserta yang tampil dengan kostum penuh warna dan beragam pertunjukan budaya.
Minggu (29/8/2026), Desa Lojejer benar-benar berubah menjadi panggung budaya. Jalan desa yang biasanya menjadi ruang aktivitas warga, kali ini dipenuhi masyarakat dari berbagai usia yang rela berdiri berjam-jam demi menyaksikan kemeriahan Parade Culture Village Nusantara IV.
Kekuatan suara musik yang disebut mencapai sekitar 85 desibel membuat suasana semakin hidup. Alunan musik tradisional terdengar menggelegar, menghadirkan atmosfer yang oleh masyarakat terasa setara dengan kemeriahan sound horeg.
Namun di balik suara musik yang menggema, ada pesan yang jauh lebih dalam. Puncak karnaval dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut mengusung tema “Anuraga”.
Tema tersebut bukan dipilih tanpa makna.
Kepala Desa Lojejer, Mochamad Sholeh, SH., M.Si., N.P.L, menjelaskan bahwa Anuraga merupakan istilah dari bahasa Sanskerta yang menggambarkan cinta yang mendalam, keterikatan, kasih sayang, kesetiaan dan pengabdian.
“Anuraga itu merupakan cinta yang mendalam, keterikatan, penuh kasih sayang, kesetiaan dan pengabdian. Anuraga itu bahasa Sansekerta,” ujar Sholeh saat jumpa pers sebelum parade dimulai.
Bagi Sholeh, makna tersebut ingin diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat Desa Lojejer. Ia berharap masyarakat dapat terus menjaga rasa saling mencintai, menghargai dan menyayangi.
Nilai tersebut juga diharapkan tumbuh dalam hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat, sehingga pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana menciptakan kehidupan sosial yang rukun dan harmonis.
“Dengan saling mencintai dan menghargai, kita bisa memberikan kasih sayang dan pengabdian yang tinggi, baik kepada masyarakat maupun dalam kehidupan bersama,” jelasnya.
Pesan tentang harmoni itu bahkan terlihat dari busana yang dikenakan Sholeh bersama istrinya. Keduanya tampil menggunakan busana adat Jawa Barat dari daerah Ciamis, yakni Bebegig Sukamantri.
Menurut Sholeh, busana tersebut memiliki filosofi tentang hubungan manusia dengan alam dan kehidupan sosial.
“Baju Bebegig ini untuk menjaga alam, jadi harmoni sosial agar supaya hidup rukun damai untuk alam semesta,” terangnya.

Empat Hari Berujung di Puncak Karnaval
Ketua Panitia Parade Culture Village Nusantara IV, Sugeng Hariyadi, mengatakan karnaval pada 29 Agustus merupakan puncak dari seluruh rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Desa Lojejer.
“Karnaval hari ini adalah puncaknya setelah empat hari berturut-turut sejak tanggal 25 kemarin,” kata Sugeng.
Rangkaian kegiatan sebelumnya telah dimulai pada 25 Agustus melalui karnaval tingkat HIMPAUDI, TK dan PAUD. Sehari berikutnya, giliran peserta dari tingkat SD dan MI yang turut memeriahkan suasana.
Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan berbagai kegiatan seni dan hiburan hingga akhirnya ditutup dengan parade umum yang melibatkan masyarakat Desa Lojejer.
Sebanyak 15 peserta turut ambil bagian dalam parade puncak. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai Pemerintah Desa, RW, sekolah, madrasah hingga MTs.
Yang menarik, setiap peserta tidak hanya berjalan dalam iring-iringan. Mereka membawa cerita masing-masing melalui kostum, atraksi dan dramatisasi sejarah.
Di depan tenda kehormatan, peserta menampilkan kisah tentang kerajaan-kerajaan di Tanah Jawa. Sejarah yang selama ini hanya dikenal melalui buku pelajaran, kali ini dihidupkan kembali melalui kreativitas masyarakat.
Sorak-sorai warga pun pecah setiap kali peserta menampilkan atraksi terbaiknya.
Anak-anak hingga Orang Tua Tumpah Ruah
Sejak titik pemberangkatan hingga garis finish, jalan desa dipenuhi warga.
Anak-anak berdiri dengan penuh rasa ingin tahu. Para orang tua tak mau ketinggalan mengabadikan momen dengan telepon genggam. Sebagian warga bahkan memilih datang lebih awal agar mendapatkan tempat terbaik untuk menyaksikan parade.
Pemandangan tersebut menunjukkan bahwa karnaval di Lojejer bukan hanya menjadi tontonan, tetapi telah menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat.
Di sana, warga berkumpul, bercengkerama, bersilaturahmi dan menikmati hiburan bersama.
Kemeriahan pun sekaligus menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat. Kehadiran warga dan pengunjung membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk menjajakan makanan, minuman dan berbagai produk mereka di sepanjang lokasi kegiatan.
Dengan demikian, semangat kemerdekaan tidak hanya hadir melalui pertunjukan budaya, tetapi juga memberikan perputaran ekonomi bagi masyarakat.
Puncak Parade Culture Village Nusantara IV akhirnya menjadi penutup rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Desa Lojejer.
Suara musik boleh menggelegar, kostum boleh mencuri perhatian dan jalan desa boleh penuh sesak oleh warga. Namun pesan yang ingin ditinggalkan jauh lebih sederhana: kemerdekaan akan terasa lebih bermakna ketika dirayakan bersama, dengan cinta, kasih sayang, persatuan dan pengabdian.
Itulah semangat “Anuraga” yang ingin ditanamkan Desa Lojejer—merayakan kemerdekaan bukan hanya dengan kemeriahan, tetapi juga dengan menjaga persaudaraan dan keharmonisan untuk membangun desa bersama.































