Warta.in, Jember– Kehadiran dua jembatan gantung di Kabupaten Jember membawa harapan baru bagi masyarakat di wilayah pelosok. Bukan hanya menjadi penghubung antardesa, jembatan tersebut diharapkan mampu mempermudah aktivitas warga, mulai dari anak-anak menuju sekolah hingga petani yang hendak menuju lahan pertanian.
Dua jembatan gantung tersebut resmi diresmikan pada Jumat (28/8/2026) melalui program nasional “Ekspedisi 1000 Jembatan Gantung Untuk Indonesia” yang digagas Pengurus Pusat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) bersama PT Pegadaian.
Peresmian dilakukan di Jembatan Gantung Sungai Lembung Lanjheng, Desa Sukowiryo, Kecamatan Jelbuk, serta Jembatan Gantung Kemuning Lor, Desa Kemuning Lor, Kecamatan Panti.
Sekretaris PSMTI Kabupaten Jember, Anasrul, mengatakan pembangunan kedua jembatan tersebut merupakan bentuk kepedulian PSMTI terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya warga yang selama ini membutuhkan akses penghubung yang lebih aman dan mudah.
Menurut Anasrul, pembangunan jembatan dilakukan melalui sumbangan PSMTI dalam program PP PSMTI, sementara pelaksanaan teknis di lapangan dipercayakan kepada Vertical Rescue Indonesia.
“Pembangunan kedua jembatan ini berasal dari sumbangan PSMTI melalui program PP PSMTI. Untuk pelaksanaan teknis di lapangan dilakukan oleh Vertical Rescue Indonesia,” ujar Anasrul.
Salah satu jembatan yang memiliki nilai penting bagi masyarakat adalah Jembatan Gantung Sungai Lembung Lanjheng. Jembatan sepanjang sekitar 60 meter tersebut dibangun hanya dalam waktu kurang lebih 14 hari.
Sebelumnya, akses penghubung warga di lokasi tersebut menggunakan jembatan swadaya yang kemudian ambrol setelah diterjang banjir pada Desember 2025.
Kini, warga kembali memiliki akses penghubung yang diharapkan dapat memperlancar mobilitas sehari-hari. Begitu pula Jembatan Gantung Kemuning Lor yang menghubungkan Desa Kemuning Lor, Kecamatan Panti, dengan Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari.
Bagi masyarakat, keberadaan jembatan tersebut bukan hanya persoalan bangunan fisik. Di balik berdirinya jembatan, terdapat aktivitas kehidupan yang ikut tersambung—anak-anak yang lebih mudah berangkat sekolah, petani yang lebih dekat menuju lahannya, serta masyarakat yang memiliki akses lebih terbuka terhadap kegiatan ekonomi.
Hal tersebut juga sejalan dengan pesan Komisaris Utama PT Pegadaian, Letjen TNI (Purn) A.M Putranto, yang menyebut jembatan sebagai “jembatan peradaban” karena keberadaannya dapat menghubungkan berbagai kebutuhan masyarakat.
Selain pembangunan jembatan, PT Pegadaian turut menunjukkan kepedulian sosial dengan menyalurkan 300 paket sembako kepada masyarakat sekitar. Bantuan lainnya berupa uang tunai Rp100 juta untuk program bedah rumah bagi warga tidak mampu serta paket home care untuk masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.
Sementara itu, Ketua Dewan Penasehat PP PSMTI, Teguh Kinarto, turut memberikan sumbangan sebesar Rp10 juta untuk kegiatan syukuran masyarakat di Jembatan Lembung Lanjheng.
Kehadiran berbagai bantuan tersebut semakin melengkapi momentum peresmian dua jembatan yang diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fisik semata, tetapi memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.
Bupati Jember Dr. H. Muhammad Fawait, S.E., M.Sc., menyampaikan apresiasi atas kolaborasi PSMTI dan PT Pegadaian dalam membantu pembangunan infrastruktur di wilayah Jember.
Menurutnya, pembangunan Kabupaten Jember tidak dapat hanya mengandalkan APBD. Kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi bagian penting untuk mempercepat pemerataan pembangunan hingga ke pelosok desa.
“Jember tidak bisa dibangun jika hanya bergantung pada APBD. Kolaborasi bersama ini adalah langkah nyata menuju Jember Baru dan Jember Maju,” ujar Gus Fawait.
Anasrul berharap keberadaan kedua jembatan tersebut dapat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam jangka panjang. Karena itu, ia mengajak seluruh warga untuk bersama-sama menjaga dan merawat fasilitas yang telah dibangun melalui kepedulian berbagai pihak tersebut.
“Kami berharap jembatan ini dijaga dan dirawat bersama. Semoga manfaatnya bisa dirasakan untuk jangka panjang,” pungkas Anasrul.
Bagi Anasrul dan PSMTI Jember, jembatan yang kini berdiri bukan sekadar penghubung dua wilayah. Lebih dari itu, jembatan tersebut menjadi simbol kepedulian dan gotong royong—bahwa ketika banyak pihak bersedia bergandengan tangan, akses menuju kehidupan yang lebih baik dapat dibuka hingga ke pelosok desa.































