Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Alumni STM Balige Angkatan 1970 Kembali ke Almamater, Sahat P Pasaribu Beri Motivasi dan Bantuan untuk Siswa

Balige, warta.in – Kunjungan seorang alumni ke sekolah tempatnya menimba ilmu puluhan tahun lalu menjadi momentum penuh makna bagi keluarga besar STM Negeri Balige, yang kini bernama SMK Negeri 1 Balige.

PadaSenin/5 Oktober 2026, alumni STM Balige angkatan 1970, Ir. Sahat Parulian Pasaribu, M.Pd.AK, kembali menyambangi almamaternya di Balige. Kedatangannya bukan sekadar bernostalgia, tetapi juga membawa pesan penting bagi generasi muda: pendidikan kejuruan dapat menjadi bekal untuk membangun masa depan, termasuk menjadi seorang pengusaha.

Dalam kunjungan tersebut, Ir. Sahat hadir sebagai salah satu alumni yang telah berhasil membangun kiprah di dunia usaha. Ia juga dipercaya menjadi pembina upacara sekaligus memberikan pengarahan dan motivasi kepada para siswa.

Kehadirannya disambut jajaran guru dan keluarga besar SMK Negeri 1 Balige. Turut hadir Wakil Bupati Toba serta sejumlah alumni yang mendampingi Ir. Sahat dari Jakarta, di antaranya St. Resman Pasaribu dan St. Sitompul.

Dalam kesempatan tersebut, Ir. Sahat juga memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp10 juta untuk mendukung kegiatan para siswa. Selain itu, ia menyampaikan komitmen untuk memberikan tambahan bantuan berupa lima unit laptop yang nantinya akan dikirimkan kepada sekolah.

Dari bangku STM menuju dunia usaha

Kisah Ir. Sahat menjadi salah satu contoh bahwa perjalanan seorang siswa SMK tidak harus berhenti ketika menyelesaikan pendidikan.

Alumni STM Balige angkatan 1970 itu datang kembali ke sekolah bukan hanya sebagai orang yang pernah belajar di tempat tersebut, tetapi sebagai seorang alumni yang ingin membagikan pengalaman perjalanan hidup dan dunia usaha kepada generasi yang sedang menempuh pendidikan.

Pesan yang dibawanya sederhana namun penting: siswa harus berani bermimpi, memiliki keterampilan, membangun karakter, disiplin, serta mampu melihat peluang.

Pengalaman alumni seperti Ir. Sahat menunjukkan bahwa pendidikan kejuruan memiliki hubungan yang erat dengan dunia kerja dan kewirausahaan.
Hal tersebut bahkan sejalan dengan visi SMK Negeri 1 Balige yang saat ini menekankan pembentukan sumber daya manusia yang profesional, kompeten, berkarakter, berjiwa wirausaha, dan mampu bersaing di era global.

STM Balige, sekolah kejuruan yang telah melewati perjalanan panjang
SMK Negeri 1 Balige memiliki sejarah panjang. Berdasarkan profil resmi sekolah, lembaga pendidikan ini pada awal berdirinya bernama Sekolah Teknologi Menengah Negeri Balige dan berdiri pada 1957.

Sekolah tersebut kemudian berkembang mengikuti perubahan pendidikan kejuruan di Indonesia hingga kini menjadi SMK Negeri 1 Balige. Profil resmi sekolah mencatat berbagai bidang kompetensi, antara lain Teknik Geomatika, Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan, Bisnis Konstruksi dan Properti, Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Teknik Elektronika Industri, Teknik Pemesinan, Teknik Pengelasan, hingga Teknik Kendaraan Ringan Otomotif.

Artinya, bagi alumni seperti Ir. Sahat, kembali ke sekolah pada 5 Oktober 2026 bukan sekadar kembali ke sebuah bangunan.

Ada sejarah panjang di baliknya.

Ada ruang kelas, guru, teman seperjuangan dan pengalaman masa muda yang menjadi bagian dari perjalanan hidup seorang alumni.

Karena itu, pertemuan alumni dan siswa menjadi penting. Siswa masa kini dapat melihat bahwa orang yang dahulu duduk di bangku sekolah yang sama dapat menempuh perjalanan panjang hingga mencapai keberhasilan di dunia profesional dan usaha.

Alumni sukses jangan lupa almamater
Kehadiran Ir. Sahat sekaligus memperlihatkan pentingnya hubungan antara alumni dan almamater.
Sekolah membutuhkan dukungan banyak pihak agar pendidikan tidak berhenti pada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Peralatan praktik, teknologi, akses informasi dan pengalaman dari dunia kerja maupun dunia usaha juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan siswa.
SMK Negeri 1 Balige sendiri mencantumkan sejumlah kemitraan dengan dunia industri, antara lain untuk praktik industri dan penyaluran lulusan.
Dalam konteks itu, bantuan Rp10 juta dan rencana lima laptop dari Ir. Sahat bukan hanya dapat dilihat sebagai bantuan materi.
Lebih jauh, bantuan tersebut menjadi simbol bahwa alumni masih memiliki ikatan dengan sekolah yang pernah membentuk dirinya.
Laptop yang akan diberikan nantinya diharapkan dapat mendukung aktivitas belajar siswa di tengah tuntutan pendidikan yang semakin membutuhkan kemampuan teknologi digital.
Pesan penting untuk generasi muda
Di hadapan para siswa, pengalaman alumni sukses tentu memiliki nilai tersendiri.
Guru memberikan ilmu di ruang kelas. Namun alumni dapat memberikan gambaran tentang bagaimana ilmu, keterampilan, kedisiplinan dan keberanian mengambil peluang digunakan setelah seseorang meninggalkan bangku sekolah.
Ir. Sahat datang dengan pengalaman puluhan tahun setelah menjadi siswa STM Balige.
Pesan yang dapat dipetik dari kunjungan tersebut adalah bahwa asal-usul pendidikan tidak boleh dilupakan ketika seseorang telah berhasil.
Justru ketika sudah memiliki kemampuan dan keberhasilan, alumni dapat kembali memberikan sesuatu kepada generasi berikutnya.
Dari STM Balige angkatan 1970, Ir. Sahat Parulian Pasaribu kembali pada 5 Oktober 2026. Kali ini bukan sebagai siswa, tetapi sebagai alumni yang datang membawa pengalaman, motivasi dan dukungan untuk adik-adik yang sedang menyiapkan masa depan.
Itulah makna penting sebuah almamater: tempat seseorang pernah belajar, sekaligus tempat yang selalu dapat menjadi alasan untuk kembali dan berbagi. (red)

Berita Terkait