Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Hatoguan Sitanggang, Perbedaan Bukan Alasan Untuk Saling Menghujat

Pangururan, warta.in -:Di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus digitalisasi saat ini, masih sering kita menemukan berbagai narasi yang memperdebatkan identitas etnis, marga, asal-usul, maupun budaya. Salah satu ungkapan yang kerap muncul adalah, “Kami bukan Batak.”
Menurut hemat saya, persoalan seperti ini sebenarnya tidak perlu menjadi bahan perdebatan yang tidak berkesudahan.
Tidak seorang pun seharusnya dipaksa untuk mengakui dirinya sebagai bagian dari suatu etnis apabila ia tidak merasa demikian. Setiap orang memiliki hak untuk menentukan bagaimana dirinya memandang identitas dan asal-usulnya.
Namun, pada sisi lain, kita juga harus menghormati orang-orang yang masih teguh memegang ajaran leluhurnya, menjaga adat istiadat, merawat bahasa, memelihara sejarah, serta mempertahankan warisan budaya yang diwariskan oleh nenek moyangnya.
Biarkan setiap orang dengan keyakinan dan identitasnya masing-masing. Jangan memaksakan, tetapi jangan pula menghina.
Biarkan ilmu yang berbicara
Di era teknologi dan digitalisasi, sebenarnya kita memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk menelusuri sejarah dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.
Berbagai arsip, dokumen, catatan kolonial, peninggalan budaya, sejarah lisan, penelitian akademis, hingga perkembangan teknologi digital dapat digunakan untuk menguji sebuah narasi sejarah.
Karena itu, apabila terjadi perbedaan pandangan mengenai asal-usul suatu kelompok atau perjalanan sebuah peradaban, sebaiknya ilmu pengetahuan yang berbicara, bukan penghinaan dan saling mencela.
Kalau seseorang mengatakan, “Saya bukan Batak,” itu adalah pilihan identitas yang patut dihormati. Tetapi apabila pernyataan tersebut kemudian digunakan untuk merendahkan orang lain yang masih memegang identitas Bataknya, maka persoalannya menjadi berbeda.
Demikian pula sebaliknya. Jangan memaksakan seseorang harus mengakui identitas tertentu hanya karena kita memiliki pandangan yang berbeda.
Sejarah tidak lahir dari satu narasi
Kita juga perlu menyadari bahwa perjalanan peradaban manusia sangat panjang. Pergantian zaman, perpindahan manusia, perkembangan kerajaan, perdagangan, perkawinan antarkelompok, peperangan, serta masuknya berbagai kekuatan asing telah membentuk kehidupan masyarakat Nusantara dari masa ke masa.
Pada masa kolonial, misalnya, pemerintahan Belanda melakukan berbagai pencatatan dan pengelompokan masyarakat berdasarkan kepentingan administrasi kolonial. Berbagai istilah, batas wilayah, sistem pemerintahan, dan administrasi yang kita kenal sekarang juga tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah tersebut.
Karena itu, sejarah tidak seharusnya dipahami hanya berdasarkan satu narasi atau satu sumber saja.
Semakin maju teknologi, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk memeriksa sumber dan membedakan antara fakta sejarah, tradisi leluhur, tafsir, dan pendapat pribadi.
Jangan sampai perbedaan menjadi bahan permusuhan
Penulis melihat bahwa perdebatan mengenai identitas sering kali justru menjauhkan kita dari persoalan yang jauh lebih penting.
Teknologi berkembang begitu cepat. Generasi muda sedang memasuki dunia yang berbeda dengan dunia yang dihadapi para leluhur kita. Tantangan pendidikan, ekonomi, lingkungan, teknologi kecerdasan buatan, lapangan pekerjaan, dan perubahan sosial jauh lebih membutuhkan perhatian kita.
Lalu untuk apa kita menghabiskan waktu hanya untuk saling mengatakan siapa yang paling benar dan siapa yang paling salah mengenai identitas?
Bukankah lebih baik kita menggunakan kemajuan teknologi untuk mempelajari sejarah secara lebih objektif, mendokumentasikan adat istiadat, menyelamatkan arsip leluhur, serta memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada generasi berikutnya?
Perbedaan adalah warna kehidupan
Perbedaan itu ibarat kita memandang taman yang dipenuhi warna-warni bunga.
Jangan karena menyukai satu warna kemudian kita mencabut bunga yang berbeda warna. Jika semua bunga dicabut hanya karena tidak sesuai dengan kesukaan kita, maka taman itu justru kehilangan keindahannya.
Begitu pula kehidupan manusia.
Perbedaan etnis, marga, bahasa, adat, budaya, dan cara pandang seharusnya menjadi warna yang memperindah kehidupan, bukan alasan untuk saling membenci.
Dalam keyakinan penulis, keberagaman tersebut merupakan bagian dari ciptaan Mulajadi Nabolon, Tuhan Yang Maha Pencipta.
Kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan dari garis keturunan tertentu. Kita juga tidak memilih siapa nenek moyang kita. Tetapi ketika kehidupan itu diberikan kepada kita, sudah sepatutnya kita menggunakannya untuk sesuatu yang bermanfaat.
Kalau tidak dapat membantu, jangan menyusahkan
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan saling menghujat.
Kalau kita belum mampu membantu orang lain, setidaknya jangan menyusahkan orang lain.
Kalau kita belum mampu membangun, jangan meruntuhkan.
Kalau kita belum mampu memberikan pengetahuan, jangan menyebarkan kebencian.
Dan kalau kita berbeda pandangan mengenai sejarah maupun identitas, mari kita berdebat dengan data, bukan dengan caci maki.
Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan, bukan tempat untuk melempar kata-kata yang menyakiti kelompok lain hanya demi mendapatkan perhatian dan menjadi viral.
Jangan sampai kita mengaku sebagai bangsa yang memiliki adat, adab, dan ribuan kebudayaan Nusantara, tetapi justru kehilangan adab ketika berbeda pendapat.
Pada akhirnya, identitas boleh berbeda, pandangan boleh berbeda, bahkan pemahaman sejarah pun boleh berbeda.
Tetapi kita tetap mempunyai tanggung jawab yang sama: menjaga martabat manusia, menghormati leluhur, merawat budaya, menghargai perbedaan, dan membangun masa depan.
Biarkan sejarah diuji oleh ilmu.
Biarkan identitas dihormati oleh setiap orang.
Biarkan perbedaan menjadi keindahan.
Dan jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling membenci.


Mulajadi Nabolon telah memberikan kita kesempatan untuk hidup. Mari kita gunakan kesempatan itu untuk meninggalkan kebaikan (Hatoguan Sitanggang-Pemerhati Adat & Budaya Batak di Pangururan)

Berita Terkait