Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Dari Cahaya Obor Ke Panggung Wisata. Hatoguan, Mengenang Opera Batak Di Tano Ponggol

Pangururan, warta.in – Ada kenangan masa lalu yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi menjadi sangat berharga bagi mereka yang pernah mengalaminya.

 Salah satunya adalah Opera Batak, pertunjukan seni yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di berbagai kampung di sekitar Tao Toba.

 Bagi generasi tua, Opera Batak bukan sekadar tontonan. Di dalamnya bertemu seni peran, musik, nyanyian, tarian, cerita, humor, sekaligus kehidupan sosial masyarakat kampung.

 Pada zamannya, ketika hiburan modern belum seperti sekarang, kehadiran Opera Batak mampu mengumpulkan masyarakat dalam satu tempat.

 Opera Batak di Bawah Cahaya Obor

 Menurut cerita dan kenangan para tetua, pertunjukan Opera Batak dahulu kerap digelar pada malam hari dengan penerangan yang sangat sederhana.

 Obor dari bambu menjadi salah satu sumber penerangan.

 Bayangkan suasana sebuah kampung pada malam hari. Ketika hari mulai gelap, masyarakat berdatangan. Cahaya obor menerangi tempat pertunjukan, sementara dari panggung terdengar suara musik tradisional, nyanyian dan dialog para pemain.

 Pertunjukan dapat berlangsung hingga malam.

 Bagi masyarakat pada masa itu, suasana tersebut tentu memiliki daya tarik tersendiri. Bukan hanya karena cerita yang dimainkan, tetapi juga karena pertunjukan menjadi ruang berkumpul dan bersosialisasi.

 Memasuki era sekitar 1980-an, Opera Batak masih menjadi salah satu bentuk hiburan yang menarik perhatian masyarakat, termasuk kaum muda.

 Kelompok seni dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dan memperkenalkan cerita serta kesenian kepada masyarakat di kampung yang mereka datangi.

 Kenangan Masa Kanak-Kanak di Tano Ponggol

 Saya sendiri masih menyimpan sedikit kenangan tentang suasana Opera Batak pada masa itu.

 Saat itu saya masih berusia sekitar lima atau enam tahun. Usia yang masih sangat kecil, tetapi beberapa hal dari pertunjukan tersebut ternyata melekat dalam ingatan.

 Saya mulai mengenal berbagai perangkat musik tradisional Batak yang digunakan dalam pertunjukan, seperti kecapi, tagading, ogung, seruling dan garantung.

 Salah satu nama pelakon yang masih saya ingat adalah Nurmala. Sepanjang ingatan saya, ia merupakan salah satu pelakon yang tampil dalam pertunjukan Opera Batak pada masa itu.

 Nurmala, kalau ingatan saya tidak keliru, bukan hanya tampil berakting, tetapi juga memiliki kemampuan bernyanyi.

 Ada pula sebuah lagu yang hingga kini masih samar-samar melekat dalam ingatan saya, dengan judul atau penggalan lirik yang saya ingat sebagai “Poltak Bulan Tula Massai Torang.”

 Saya tidak ingin memastikan kembali detail nama maupun judul lagu tersebut sebagai fakta sejarah tanpa sumber yang lebih kuat. Namun, justru di situlah kekuatan sebuah kenangan masa kecil: beberapa bagian mungkin sudah samar, tetapi suasananya masih terasa.

 Salah satu lokasi yang masih terbayang dalam ingatan saya berada di sekitar alur Tano Ponggol, tepatnya di kawasan yang dahulu dikenal sebagai parjagal biang Naibaho.

 Kini tentu banyak yang telah berubah.

 Namun nama-nama, suara musik, cahaya obor dan keramaian masyarakat pada malam pertunjukan masih menjadi bagian dari memori yang sulit dilupakan.

 Opera Batak dan Tradisi Martandang

 Opera Batak pada masa itu juga hadir di tengah kehidupan masyarakat yang masih kuat dengan adat dan tradisi.

 Bagi kaum muda, dikenal pula tradisi martandang—berkunjung dan bersosialisasi dari satu kampung ke kampung lainnya. Dalam kehidupan sosial masyarakat Batak masa itu, perjumpaan antarkampung menjadi bagian dari ruang pergaulan anak muda, termasuk dalam proses mencari rokkap, atau pasangan hidup.

 Karena itu, sebuah pertunjukan Opera Batak sesungguhnya bukan hanya tempat menonton.

 Masyarakat bertemu.

Anak-anak bermain.

Orang tua berbincang.

Kaum muda berkenalan.

Musik dimainkan.

Cerita disampaikan.

Dan masyarakat dari kampung yang berbeda dapat berkumpul dalam satu suasana.

 Dengan demikian, Opera Batak memiliki fungsi sosial yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Ia menjadi salah satu ruang perjumpaan masyarakat.

 Dari Hiburan Kampung Menjadi Potensi Atraksi Budaya

 Zaman kemudian berubah.

Teknologi hiburan berkembang. Televisi, telepon pintar dan media digital mengambil sebagian besar ruang hiburan yang dahulu diisi pertunjukan tradisional.

Tempat-tempat yang dahulu menjadi lokasi berkumpul masyarakat pun mengalami perubahan.

 Kawasan Tano Ponggol dan berbagai kawasan di sekitar Tao Toba kini dikenal sebagai bagian dari ruang wisata Samosir.

Di sinilah muncul sebuah pertanyaan penting:

Apakah Opera Batak hanya akan menjadi cerita masa lalu, atau dapat kembali hadir di tengah kehidupan masyarakat sekarang?

 Pertanyaan tersebut penting karena wisata tidak hanya berbicara tentang pemandangan alam.

 Wisatawan juga mencari pengalaman budaya.

 Mereka ingin mendengar musik tradisional, mengetahui cerita masyarakat, melihat kesenian lokal dan memahami bagaimana sebuah komunitas mempertahankan identitasnya.

 Dalam konteks itulah Opera Batak memiliki peluang untuk kembali diberi ruang.

 Menghidupkan Kembali Opera Batak di Samosir

 Pemerintah Kabupaten Samosir bersama pelaku seni, komunitas budaya dan generasi muda dapat mempertimbangkan Opera Batak sebagai salah satu bentuk atraksi seni budaya.

 Konsepnya tentu tidak harus sama persis dengan pertunjukan masa lalu.

 Teknologi panggung boleh berkembang. Tata cahaya boleh modern. Tempat pertunjukan boleh disesuaikan dengan kebutuhan wisata.

 Tetapi identitas dan ruh keseniannya harus tetap dijaga.

 Generasi muda dapat dilibatkan untuk mempelajari musik tradisional seperti tagading, ogung, garantung, kecapi dan seruling. Mereka juga dapat belajar seni peran, bernyanyi serta menggali cerita-cerita yang bersumber dari kehidupan masyarakat Batak.

 Dengan cara seperti itu, Opera Batak tidak berhenti sebagai dokumentasi masa lalu.

 Ia dapat menjadi ruang pewarisan budaya.

 Jangan Sampai Opera Batak Hanya Tinggal Cerita

 Kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena dituliskan dalam buku atau diceritakan oleh orang tua kepada anak-anaknya.

 Kebudayaan akan hidup ketika dipelajari, dimainkan, dipertunjukkan dan diwariskan.

 Dahulu masyarakat berkumpul di bawah cahaya obor untuk menyaksikan Opera Batak.

Kini, mungkin waktunya generasi baru kembali mendengar suara ogung dan tagading di tepi Tao Toba.

 Cahaya panggung boleh menggantikan cahaya obor.

 Peralatan pertujukan boleh menjadi lebih modern.

 Tetapi cerita, musik dan identitas budayanya jangan sampai hilang.

 Samosir memiliki alam.

Tao Toba memiliki sejarah.

Masyarakat Batak memiliki adat dan tradisi.

 Dan Opera Batak adalah salah satu bagian dari warisan seni yang dapat menceritakan semuanya melalui panggung.

 Mungkin suatu hari nanti, di tepi Tao Toba, suara ogung dan tagading kembali terdengar.

 Bukan sekadar untuk mengenang masa lalu.

 Tetapi agar anak cucu dapat melihat sendiri bahwa budaya leluhur masih hidup di tanah kelahirannya.

 Sebab ketika sebuah kebudayaan dirawat dan diwariskan, ia tidak lagi hanya menjadi kenangan.

 Ia menjadi identitas, pengetahuan dan kekuatan budaya bagi masa depan Samosir (Hatoguan Sitanggang, Pemerhati Adat & Budaya Batak di Pangururan)

Berita Terkait