Warta.in, Jember – Pemerintah Kabupaten Jember bersama Perum Bulog Cabang Jember kembali menyalurkan bantuan pangan dalam jumlah besar. Sebanyak kurang lebih 8 ribu ton beras dan 1,8 juta liter minyak goreng didistribusikan kepada masyarakat, Jumat (10/4/2026).
Distribusi diawali dari Kantor Bulog Cabang Jember di Mangli, ditandai dengan pelepasan belasan truk pengangkut bantuan. Bupati Jember, Gus Fawait, turut hadir dan langsung meninjau penyaluran di Kelurahan Kaliwates.
Di lokasi tersebut, Bupati menyerahkan bantuan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM), bahkan mendatangi langsung rumah warga yang tidak mampu hadir, sebagai bentuk memastikan bantuan tersalurkan.
Namun di balik besarnya angka distribusi, data penerima justru menunjukkan fakta menarik. Kepala Bulog Cabang Jember, M. Ade Saputra, mengungkapkan bahwa jumlah penerima bantuan di Jember tercatat sebanyak 390.744 KPM terendah di antara kabupaten/kota di Jawa Timur.
“Jumlah tersebut menjadikan Jember sebagai daerah dengan penerima bantuan pangan paling sedikit di Jawa Timur,” ujarnya.
Kondisi ini memunculkan dua sisi penilaian. Di satu sisi, rendahnya jumlah penerima dapat diartikan sebagai indikasi menurunnya angka kemiskinan. Namun di sisi lain, hal ini juga membuka ruang pertanyaan terkait akurasi data dan potensi warga rentan yang belum terjangkau bantuan.
Untuk tahap awal, distribusi difokuskan pada tiga kecamatan di wilayah perkotaan, yakni Kaliwates, Patrang, dan Sumbersari. Proses penyaluran diklaim menggunakan sistem aplikasi dan pengawasan petugas di tingkat kelurahan guna meminimalisir kesalahan sasaran.
Bupati Jember, Gus Fawait, menegaskan bahwa bantuan ini tidak hanya bertujuan meringankan beban masyarakat, tetapi juga menjaga stabilitas harga pangan.
“Kami berharap bantuan ini dapat menekan inflasi sekaligus membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok,” ujarnya.
Meski demikian, ia juga membuka ruang pengawasan publik secara luas. Masyarakat diminta aktif melaporkan jika ditemukan ketidaktepatan dalam distribusi.
“Laporkan melalui Wadul Gus’e jika ada bantuan yang tidak tepat sasaran, atau jika masih ada warga kurang mampu yang belum menerima,” tegasnya.
Dengan besarnya volume bantuan yang digelontorkan, transparansi dan ketepatan data menjadi kunci agar program ini benar-benar menyasar masyarakat yang membutuhkan, bukan sekadar angka dalam laporan distribusi.































