Betung Selatan – Keterbatasan ruang belajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Desa Betung Selatan makin memprihatinkan. Selain satu ruangan disekat menjadi dua, kantor sekolah pun terpaksa dijadikan ruang belajar agar semua siswa tetap bisa masuk.

Kepala MI Desa Betung Selatan menyebut, jumlah rombongan belajar saat ini tidak sebanding dengan ruang kelas yang tersedia. “Ada 6 rombel, tapi ruang kelas hanya 3. Jadi satu ruang kami bagi dua pakai triplek. Kantor juga kami pakai untuk kelas,” ujarnya, Selasa 28 April 2026.
Penyekatan ruangan membuat proses belajar mengajar kurang kondusif. Suara dari kelas sebelah saling mengganggu, konsentrasi siswa pecah, dan guru harus berbicara lebih keras. Aktivitas administrasi sekolah juga terganggu karena kantor dipakai untuk belajar.

Salah satu guru yang enggan disebut namanya mengaku Sudah dua kali pihak PU turun ke sekolah mengukur, tapi sampai saat ini belum dibangun juga,” katanya. Bukan hanya itu saja, proposal pembangunan ruang kelas juga sudah beberapa kali diajukan ke Kementerian Agama dan Pemkab, namun belum ada realisasi.
Tiap tahun jumlah siswa baru meningkat, sementara bangunan sekolah tidak bertambah. Kondisi ini membuat sekolah harus memutar otak agar kegiatan belajar tetap jalan.

Orang tua siswa berharap pemerintah segera membangun ruang kelas baru. “Kasihan anak-anak belajar desakan. Kalau bisa jangan cuma dibagi, tapi ditambah ruangannya,” kata salah satu wali murid.
Pihak madrasah menargetkan minimal butuh 3 ruang kelas baru agar satu rombel bisa menempati satu ruang. Saat ini kegiatan belajar tetap berjalan dengan sistem penyekatan darurat sambil menunggu bantuan turun.































