Lumban Suhi Suhi Toruan, warta.in — Wajah cerah dan penuh semangat tampak dari seorang anak perempuan bernama Renata Boru Simarmata. Siswi berusia 11 tahun yang kini duduk di kelas VI SDN 22 Lumban Suhi-Suhi Toruan itu menunjukkan keberanian dan rasa ingin tahu melalui tugas sekolah yang membawanya langsung berinteraksi dengan warga desa.
Renata merupakan putri dari Lindung Simarmata dan, menurut silsilah keluarganya, termasuk keturunan garis pertama Opung Pultak Simarmata, yang dikenal sebagai tungga ni huta Lumban Sait ni Huta Alngit, Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan.
Semangat belajar Renata terlihat ketika ia bersama teman-teman satu kelompoknya mendapat tugas untuk mewawancarai warga mengenai penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Pada Senin, 24 Agustus 2026, Renata berkesempatan melakukan wawancara dengan namborunya, Dr. drh. Rotua Wendeilyna Simarmata, MSi, CMed, CPP, CIJ, CPW, yang dikenal aktif di bidang paralegal dan mediasi.
Dalam wawancara tersebut, Renata mencoba menggali bagaimana lima sila Pancasila tidak hanya dihafalkan di ruang kelas, tetapi benar-benar hidup dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan.
Sila Pertama: Kehidupan Beragama yang Kuat
Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa tercermin dalam kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai keagamaan. Rumah ibadah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial warga, sementara kegiatan keagamaan berlangsung dalam suasana kebersamaan dan kekeluargaan.
Dalam berbagai kegiatan adat maupun kegiatan gotong royong, doa juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Hal tersebut mencerminkan keyakinan masyarakat bahwa setiap aktivitas manusia senantiasa berada di bawah penyertaan dan lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Sila Kedua: Saling Menghargai dan Peduli Sesama
Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab terlihat dalam kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi sikap saling menghormati dan membantu.
Ketika ada warga yang sakit, mengalami kedukaan maupun melaksanakan pesta adat, masyarakat umumnya hadir memberikan dukungan. Semangat kebersamaan dan kepedulian tersebut menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Setiap orang diperlakukan dengan hormat dan kasih sayang tanpa membedakan latar belakang, karena hubungan antarwarga dibangun atas dasar persaudaraan dan rasa kemanusiaan.
Sila Ketiga: Persatuan dan Gotong Royong
Nilai Persatuan Indonesia juga tampak kuat dalam kehidupan masyarakat Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan. Semangat kekeluargaan dan gotong royong menjadi salah satu ciri kehidupan warga.
Dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kepentingan bersama, masyarakat saling membantu dan bekerja sama. Perbedaan pendapat tidak seharusnya menjadi alasan untuk merenggangkan hubungan persaudaraan.
Kebersamaan menjadi kekuatan penting dalam membangun lingkungan dan menjaga hubungan sosial antarwarga.
Sila Keempat: Mengutamakan Musyawarah
Penerapan sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dapat dilihat dalam kebiasaan masyarakat mengedepankan pembicaraan dan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan bersama.
Hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dibicarakan bersama, dengan memberikan ruang bagi pendapat dan masukan dari berbagai pihak.
Semangat musyawarah juga menjadi bagian penting dalam mencari jalan keluar ketika muncul perbedaan maupun persoalan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sila Kelima: Kepedulian untuk Keadilan Sosial
Sementara itu, nilai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia tercermin melalui kepedulian dan semangat saling membantu antarwarga.
Masyarakat yang memiliki kemampuan lebih diharapkan dapat membantu mereka yang membutuhkan. Semangat berbagi dan kepedulian sosial menjadi bagian penting agar kesejahteraan dapat dirasakan secara lebih luas dalam kehidupan bersama.
Bagi Renata, wawancara tersebut bukan sekadar menyelesaikan tugas sekolah. Di usianya yang masih 11 tahun, ia telah berani tampil, bertanya, mendengarkan, dan menggali bagaimana nilai-nilai luhur bangsa benar-benar diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
Pengalaman itu sekaligus menunjukkan bahwa Pancasila bukan hanya tulisan yang dihafalkan di buku pelajaran, melainkan nilai yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari: dalam doa, kepedulian, gotong royong, musyawarah, dan semangat saling membantu.
Keberanian dan keceriaan Renata Boru Simarmata menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga dan masyarakat Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan. Semangat belajar dan rasa ingin tahunya diharapkan terus tumbuh, membawanya meraih cita-cita sekaligus menjadi inspirasi bagi anak-anak lainnya.
Hebat, Renata! Teruslah belajar, berani bertanya, dan tumbuh menjadi generasi cerdas yang mencintai bangsa, tanah air, serta nilai-nilai luhur Pancasila (red)
Wartawan Investigasi
Pencari Bukti Yang Tersembunyi
Dari Tugas Sekolah, Renata boru Simarmata Belajar Nilai Pancasila di Lumban Suhi-Suhi Toruan































