Desa Lumban Suhi Suhi Toruan, mediasumatera – Ada orang yang pergi dari kampung halaman untuk mengejar pendidikan, membangun karier, kemudian memilih menetap jauh dari tanah kelahirannya. Namun ada pula yang pada suatu titik dalam perjalanan hidupnya justru merasa perlu kembali.
Bagi Dr drh Rotua Wendeilyna Simarmata MSi CMed CPP CIJ CPW, keputusan kembali ke Samosir adalah bagian dari perjalanan panjang untuk menemukan kembali hubungan dengan tanah asal keluarga sekaligus mengabdikan pengetahuan yang telah diperolehnya.
Perempuan yang akrab disapa Wendy itu lahir di Medan. Tetapi secara genealogis dan emosional, Desa Lumban Suhi Suhi Toruan, Pangururan, Samosir, merupakan salah satu akar penting dalam perjalanan keluarganya.
Di tanah itulah orang tuanya berasal. Di lingkungan itulah nilai kekerabatan, adat, sejarah leluhur, dan identitas keluarga terus hidup.
Karena itu, ketika akhirnya memilih tinggal di Samosir, kepulangannya tidak sekadar dapat dilihat sebagai perubahan tempat tinggal.
Ada semacam lingkaran perjalanan yang kembali kepada titik asal.
Dari Medan Menempuh Jalan Panjang Pendidikan
Perjalanan Wendy memperlihatkan bahwa pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam pembentukan dirinya.
Ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Gadjah Mada, salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, perjalanan akademiknya berlanjut ke Universitas Indonesia untuk menempuh pendidikan magister.
Tidak berhenti di sana, pendidikan kemudian membawanya ke Universitas Padjadjaran untuk menyelesaikan pendidikan doktoral.
Tiga perguruan tinggi tersebut menjadi bagian dari perjalanan akademiknya.
Namun, bagi Wendy, pendidikan formal bukanlah garis akhir.
Perkembangan dunia profesional menuntut seseorang untuk terus belajar. Karena itu, ia kemudian memperluas kompetensi melalui berbagai pendidikan, pelatihan, profesi, dan sertifikasi.
Di belakang namanya tercantum sejumlah gelar dan sertifikasi, antara lain Doktor Ilmu Pemerintahan, Dokter hewan, Magister Sains, CMed., CPP, CIJ, dan CPW.
Rangkaian tersebut menunjukkan spektrum minat yang cukup luas: dari ilmu kedokteran hewan dan sains, kemudian berkembang ke bidang mediasi, paralegal, jurnalistik investigasi, serta penulisan profesional.
Bagi Wendy, dunia yang terus berubah menuntut seseorang untuk tidak berhenti belajar.
Jakarta: Tempat Mengasah Pengalaman
Sebelum menetap di Samosir, Wendy menjalani kehidupan profesional di Jakarta.
Ibu kota menjadi ruang baginya untuk membangun pengalaman, memperluas jaringan, berinteraksi dengan berbagai latar belakang masyarakat, sekaligus melihat persoalan dari perspektif yang lebih luas.
Jakarta memberinya pengalaman tentang bagaimana dunia profesional berjalan dengan dinamika yang cepat.
Di sana ia tidak hanya memperoleh pengalaman pekerjaan, tetapi juga berhadapan dengan berbagai persoalan sosial dan manusia.
Pengalaman tersebut kelak menjadi bekal ketika ia kembali ke daerah.
Sebab, pulang ke kampung halaman dengan membawa pengalaman dari kota besar berarti membawa perspektif baru untuk melihat persoalan-persoalan lama.
Pandemi dan Keputusan untuk Pulang
Titik penting dalam perjalanan hidup Wendy terjadi ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia.
Di tengah situasi yang tidak mudah tersebut, ia mengambil keputusan untuk kembali ke Samosir dan kemudian menetap di tanah asal keluarganya.
Keputusan itu memiliki makna tersendiri.
Pandemi membuat banyak orang kembali mempertanyakan prioritas hidup: tentang keluarga, tempat tinggal, pekerjaan, kesehatan, serta arti rumah.
Bagi Wendy, Samosir bukan sekadar sebuah daerah di peta.
Samosir adalah tanah leluhur.
Ada hubungan darah, sejarah keluarga, kenangan, dan identitas yang membuat tanah tersebut selalu memiliki tempat khusus dalam kehidupannya.
Maka ketika kesempatan untuk kembali terbuka, ia memilih pulang.
Namun kepulangan itu tidak dilakukan dengan tangan kosong.
Ia membawa pengalaman pendidikan, profesi, jaringan, serta pengetahuan yang diperolehnya selama bertahun-tahun.
Pulang untuk Berkarya
Setelah kembali ke Samosir, aktivitas Wendy justru semakin berkembang.
Ia mulai lebih dekat dengan persoalan masyarakat.
Bidang yang digelutinya pun bersentuhan dengan berbagai persoalan publik, mulai dari hukum, mediasi, adat, sejarah, hingga jurnalistik.
Dalam bidang mediasi, Wendy menekuni profesi sebagai mediator non-hakim dan mengembangkan kapasitasnya melalui pendidikan serta sertifikasi mediasi.
Mediasi sendiri memiliki posisi penting dalam penyelesaian sengketa karena memberikan ruang kepada pihak-pihak yang berselisih untuk mencari jalan keluar melalui proses dialog.
Bagi masyarakat, pemahaman mengenai proses hukum sering kali tidak mudah.
Bahasa hukum, prosedur, dokumen, serta berbagai tahapan penyelesaian perkara dapat menjadi sesuatu yang rumit bagi masyarakat awam.
Dalam konteks tersebut, keberadaan orang yang mampu menjelaskan persoalan secara lebih sederhana menjadi penting.
Di sinilah pengalaman Wendy dalam bidang hukum, mediasi, paralegal, dan komunikasi publik bertemu.
Hukum Tidak Bisa Dipisahkan dari Fakta
Salah satu perhatian Wendy adalah persoalan yang muncul ketika sejarah lokal, adat, silsilah, tanah, dan hukum negara bertemu.
Persoalan seperti ini sering kali memiliki akar sejarah yang panjang.
Sebuah tanah bisa memiliki cerita turun-temurun.
Sebuah keluarga bisa memiliki silsilah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebuah dokumen lama bisa menjadi bagian dari sejarah suatu wilayah.
Namun ketika persoalan tersebut masuk ke dalam ranah hukum, semuanya harus ditempatkan berdasarkan kedudukan dan kekuatan pembuktiannya masing-masing.
Karena itu, Wendy menekankan pentingnya membedakan antara cerita sejarah, tradisi lisan, silsilah keluarga, dokumen administratif, dan alat bukti hukum.
Tidak semua dokumen lama secara otomatis dapat diperlakukan sebagai bukti hak.
Demikian pula, sebuah klaim genealogis tidak cukup hanya disampaikan sebagai cerita apabila hendak digunakan untuk menentukan hak tertentu.
Harus ada proses pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pendekatan seperti itu menjadi penting terutama dalam persoalan tanah yang bersinggungan dengan sejarah masyarakat adat.
Lumban Silo: Ketika Sejarah, Silsilah dan Hukum Bertemu
Perhatian Wendy terhadap persoalan tanah dan sejarah lokal salah satunya terlihat dalam keterlibatannya mengangkat persoalan Lumban Silo di Pangururan.
Persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut sebidang tanah.
Di dalamnya terdapat sejarah, hubungan kekerabatan, klaim silsilah, dokumen, serta persoalan hukum yang harus dipahami secara hati-hati.
Wendy mendorong agar masyarakat melihat persoalan tersebut dengan kepala dingin.
Menurut pendekatan yang dikedepankannya, kebenaran tidak seharusnya ditentukan hanya berdasarkan siapa yang paling keras berbicara.
Kebenaran harus dicari melalui bukti.
Dokumen harus diperiksa.
Silsilah harus ditelusuri.
Sejarah harus dibandingkan dengan sumber lain.
Sementara aspek hukum harus diuji berdasarkan peraturan yang berlaku.
Pendekatan semacam ini penting agar persoalan sejarah keluarga tidak berubah menjadi konflik antarketurunan.
Jurnalistik sebagai Ruang Pengabdian
Selain berkecimpung dalam bidang mediasi dan paralegal, Wendy juga menggunakan jurnalistik sebagai sarana untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Bertugas sebagai Pemimpin Redaksi Tarombo TV Media
Baginya, media memiliki peran penting dalam membuka ruang publik.
Sebuah persoalan yang hanya diketahui oleh segelintir orang dapat menjadi perhatian masyarakat ketika ditulis dan diberitakan dengan baik.
Namun, semakin besar kekuatan media, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.
Karena itu, dalam mengangkat persoalan yang sensitif—terutama menyangkut tanah, keluarga, adat, dan hukum—prinsip kehati-hatian menjadi sangat penting.
Fakta harus dibedakan dari opini.
Klaim harus dibedakan dari bukti.
Dan keberpihakan kepada masyarakat tidak boleh berarti mengabaikan prinsip verifikasi.
Di titik inilah pengalaman Wendy dalam jurnalistik bertemu dengan latar belakang pendidikannya di bidang lain.
Menjembatani Dunia Akademik dan Masyarakat
Salah satu karakter yang terlihat dalam perjalanan Wendy adalah kecenderungannya menghubungkan berbagai disiplin ilmu.
Latar belakang dokter hewan dan sains memberikan dasar berpikir ilmiah.
Pendidikan tinggi memberikan kemampuan akademik.
Pendidikan mediasi memberikan pemahaman tentang penyelesaian konflik.
Pendidikan paralegal memperkenalkan aspek pendampingan dan pemahaman hukum.
Sementara jurnalistik memberinya ruang untuk mengomunikasikan persoalan kepada masyarakat.
Kesemuanya kemudian bertemu dalam kehidupan sehari-hari di Samosir.
Bukan berarti semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan satu pendekatan.
Justru persoalan masyarakat sering kali membutuhkan berbagai perspektif sekaligus.
Persoalan tanah membutuhkan pemahaman hukum dan sejarah.
Persoalan keluarga membutuhkan pemahaman genealogis dan sosial.
Persoalan konflik membutuhkan kemampuan komunikasi dan mediasi.
Sedangkan persoalan informasi publik membutuhkan jurnalistik yang bertanggung jawab.
Perempuan yang Memilih Pulang
Keputusan untuk meninggalkan kenyamanan kehidupan kota dan kembali ke daerah bukanlah pilihan yang selalu mudah.
Ada perubahan lingkungan.
Ada perubahan ritme kehidupan.
Ada pula tantangan untuk membangun kembali jaringan dan aktivitas profesional.
Namun bagi Wendy, kepulangan memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar pertimbangan kenyamanan.
Ia melihat tanah leluhur sebagai ruang pengabdian.
Samosir memberikan kesempatan baginya untuk lebih dekat dengan masyarakat dan melihat persoalan secara langsung.
Di tengah masyarakat itulah ilmu yang selama ini diperoleh diuji oleh kenyataan.
Sebab ilmu yang hanya tersimpan di ruang akademik tidak selalu cukup.
Ilmu akan memiliki makna ketika dapat digunakan untuk membantu manusia memahami persoalan hidupnya.
Menjaga Akar, Membuka Masa Depan
Perjalanan Wendy juga dapat dibaca sebagai perjalanan tentang identitas.
Seseorang dapat lahir di satu kota, belajar di berbagai tempat, bekerja di kota besar, dan memiliki pengalaman lintas bidang.
Namun hubungan dengan tanah leluhur tetap dapat menjadi bagian penting dari identitas tersebut.
Lumban Suhi Suhi Toruan bagi Wendy bukan sekadar nama sebuah wilayah.
Ia merupakan simbol dari akar keluarga.
Sementara Samosir menjadi ruang untuk menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Masa lalu berupa sejarah keluarga, adat, dan leluhur.
Masa kini berupa persoalan masyarakat yang harus dihadapi.
Sedangkan masa depan adalah generasi berikutnya yang membutuhkan pengetahuan, keterbukaan, dan pemahaman terhadap akar budayanya.
Pesan dari Sebuah Kepulangan
Jika perjalanan hidup Wendy dirangkum dalam satu kalimat, mungkin kalimat yang paling tepat adalah:
pergi untuk belajar, kembali untuk mengabdi.
Ia pernah menjalani perjalanan akademik di Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung.
Ia pernah membangun pengalaman profesional di Jakarta.
Namun pada akhirnya, ia memilih kembali ke Samosir.
Bukan karena perjalanan telah selesai.
Justru karena perjalanan tersebut memasuki babak baru.
Babak ketika pengalaman yang diperoleh di luar daerah dibawa pulang dan dipertemukan dengan kebutuhan masyarakat di tanah leluhur.
Bagi Wendy, seseorang boleh pergi sejauh apa pun.
Boleh belajar setinggi mungkin.
Boleh membangun karier di kota mana pun.
Tetapi akar tetap memiliki arti.
Dan akar itulah yang pada suatu ketika memanggilnya pulang.
“Ke mana pun kaki melangkah, akar tak boleh putus dari tanahnya.”
Kalimat itu menjadi gambaran sederhana tentang perjalanan seorang perempuan yang memilih kembali ke tanah leluhur—bukan untuk berhenti berkarya, melainkan untuk melanjutkan pengabdiannya dengan cara yang berbeda.
Dari Medan ia memulai perjalanan.
Dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung ia memperoleh pendidikan dan pengalaman.
Dan di Samosir, ia menemukan ruang untuk membawa semuanya pulang.
Dr drh Rotua Wendeilyna Simarmata MSi CMed CPP CIJ CPW—sebuah perjalanan panjang yang pada akhirnya kembali kepada akar (red)





























