Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

dr Monang Simarmata SpM, In Memorian, Dari Bus Sariburaja Hingga Ruang Operasi, Kisah Tulang Sariburaja

Pangururan, warta.in _ Nama Somuntul Bungajalan Pasaribu, atau yang dikenal dengan gelar Tuan Sariburaja, tak pernah hilang dari ingatan saya, sejak masa kanak-kanak hingga saya menapaki karir sebagai dokter mata di Jakarta. Beliau bukan sekadar perintis kemerdekaan atau pengusaha pertama yang membawa angkutan umum ke Samosir, melainkan sosok yang saya panggil dengan penuh hormat: Tulang.

Kenangan Masa Sekolah di Pangururan (1957–1960)

Saat bersekolah di SMP I Pangururan (1957–1959) lalu melanjutkan ke SMP II Hariara Tolu (1959–1960), setiap hari saya mengayuh sepeda sejauh 7 kilometer dari Lumban Suhi ke Pangururan. Di sepanjang jalan itu, saya selalu berpapasan dengan bus-bus bermerek SARIBURAJA yang lalu lalang.

Pada masa itu, di seluruh Pulau Samosir hanya ada dua perusahaan bus yang terdaftar resmi: Sariburaja dan Bus Pulau Samosir. Setiap kendaraan baru yang ingin beroperasi wajib bergabung dengan salah satunya. Ayah saya seorang anggota Veteran Republik Indonesia memilih memasukkan bus barunya yang baru dibeli dari Siantar ke naungan Sariburaja dengan nomor lambung 8. Beberapa tahun kemudian, bus itu dipindahkan ke kelompok Bus Pulau Samosir nomor 4; alasannya saya belum paham saat itu, karena saya masih sekadar anak sekolah.

Namun, saya pernah merasakan langsung menjadi kondektur bus itu saat libur sekolah. Lucunya, setiap saya yang bertugas memungut ongkos, pendapatan hari itu pasti meningkat pesat karena tentu saja penumpang lebih percaya dan saya pun lebih teliti mengurusnya! Tawa pun sering terselip di perjalanan yang berdebu itu.

Kegiatan itu berakhir saat saya tamat SMP pada tahun 1960, lalu melanjutkan sekolah ke SMA Negeri I Medan. Sementara itu, orang tua memutuskan pindah ke Pematang Siantar dan membawa serta bus tersebut untuk menghindari tuntutan setoran tidak resmi dari kelompok PRRI yang kala itu membebani pelaku usaha di daerah.

Bertemu Kembali di Tanah Jakarta

Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan kami kembali. Saat saya sudah menetap di Jakarta dan tinggal di Tomang, saya melihat beliau rutin beribadah di HKBP Grogol selalu duduk di barisan depan dengan setelan jas berwarna cerah yang rapi. Beliau pun sudah menetap di kawasan Grogol setelah pindah dari Samosir.

Saya melanjutkan pendidikan spesialisasi mata dan lulus pada tahun 1974. Saat itu saya masih berpraktik di Jalan Panglima Polim, tak jauh dari RSUD Fatmawati tempat saya bertugas sebagai pegawai negeri.

Hubungan Tulang-Bere: Dokter dan Pasien

Antara tahun 1978 hingga 1980, di sebuah sore saat jam praktik, datanglah beliau sendiri ke klinik saya. Anak sulung beliau, OH Simarmata SH, kala itu masih bertugas di Nusa Tenggara Timur sebagai Wakil Ketua Pengadilan Tinggi

Sebagai wajarnya usia lanjut, Tulang Sariburaja menderita katarak pada kedua matanya. Hati saya penuh haru dan bahagia saat beliau bersedia saya tangani dan lakukan operasi katarak. Saya sudah tak ingat persis apakah operasi dilaksanakan di RS Fatmawati atau RS Mata Aini, yang pasti bukan di Matarraja Eye Center karena klinik yang saya beri nama untuk menghormati Oppu Simataraja itu baru didirikan pada tahun 1980.

Warisan yang Tak Terlupakan

Demikianlah sekelumit kisah perjumpaan saya dengan sosok besar dari Pangururan ini. Perjalanan hidup beliau bukan hanya tentang perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, melainkan juga tentang membuka jalan ekonomi bagi rakyat dari jalur darat yang dulu belum ada, hingga mengajarkan kita untuk saling peduli dan merawat sesama.

Tulang Sariburaja, pahlawan yang tak pernah lelah mengabdi: perjuanganmu di medan perang, di jalan raya, hingga senyum tulusmu saat menyapa rakyat di Dermaga Tano Ponggol, akan terus menjadi teladan bagi kami semua.

Semoga damai abadi menyertaimu, Tulang Sariburaja. (Penulis : dr Monang Simarmata SpM Pemilik Klinik  Mataraja Eye Centre, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan)

Berita Terkait