Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Mengepung Proyek Rp88 Miliar di Nias: Saat Pagar 20 Meter Roboh dan Bored Pile Jadi Misteri

Gnungsitoli,Warta.in — Pagi itu, Rabu 23 September 2026, debu dan lumpur bercampur di lokasi proyek Revitalisasi SMAN Unggulan Sukma Nias. Di tengah deru truk tanah timbunan, puluhan massa LSM Kemilau Cahaya Bangsa Indonesia (KCBI) berdiri. Mereka tidak membawa batu. Mereka membawa pertanyaan.

Tiga hari. Dari Rabu hingga Jumat, 25 September 2026, dari jam 10.00 sampai 18.00 WIB, mereka mengepung proyek Rp88 miliar itu.

“Uang negara Bos, harus bermutu,” teriak Mikoz Zebua, Koordinator Lapangan, dengan pengeras suara. “Kalau bagus, tunjukkan buktinya. Jangan diam.”

Diam itu yang membuat mereka curiga.

Dari Pasir Muara Hingga Batu Kapur

Mikoz membuka catatannya. Temuannya bukan satu. Pasir yang datang ke lokasi disebut diambil dari muara sungai. Batu yang dipakai, secara kasat mata menyerupai batu kapur. Semen diaduk tak konsisten. Tanah timbunan, entah dari mana sumbernya.

Sudahkah semua itu di-approval? Sudahkah diuji lab? Tak ada yang menjawab.

Di hari hujan, pengecoran tetap jalan. Bored pile dicor di bawah hujan. Dinding naik saat langit masih basah. Secara teknis, bolehkah? Kalau boleh, mana dokumen metode kerjanya? Lagi-lagi diam.

Pagar Roboh 20 Meter, Kedalaman Bored Pile Misterius

Lalu pagar itu roboh. Sepanjang 20 meter. Ambruk begitu saja. Jika pagar saja roboh, bagaimana dengan bangunan sekolah unggulan yang akan dihuni anak-anak Nias?

Itu yang membuat massa menuntut boring log dibuka. Sedalam apa bored pile itu ditanam? Sesuai desain atau tidak? Jangan jawab dengan asumsi. Tunjukkan log-nya, tunjukkan laporan pengawasannya.

Di lokasi, papan K3 terpampang gagah. Tapi di lapangan, pekerja terlihat tanpa APD lengkap. Siapa yang mengawasi?

Truk Berdebu, BBM Subsidi, dan Oknum di Balik Proyek

Warga di sekitar proyek mengeluh. Saat panas, debu truk tanah menutup warung. Saat hujan, jalan jadi bubur becek. Lalu lintas terganggu.

Isu lebih liar beredar: dugaan BBM subsidi untuk alat berat, hingga dugaan adanya oknum aparat yang membekingi proyek di luar fungsi pengamanan resmi. KCBI tidak menuduh. Mereka minta diperiksa.

“Kami sudah surati, sudah konfirmasi media, tapi PPK, pelaksana, konsultan pengawas memilih diam,” kata Mikoz.

Padahal di proyek lain di Gunungsitoli, PPK datang menjelaskan saat warga bertanya. Mengapa di proyek Rp88 miliar ini begitu tertutup?

Tiga Hari Mengepung, Satu Tuntutan: Buka Dokumen

KCBI hanya minta satu: keterbukaan. Buka kontrak. Buka spesifikasi teknis. Buka material approval. Buka hasil uji lab. Buka laporan bored pile. Buka dokumen K3.

“Kalau semua sesuai, kami akan jadi garda terdepan membela proyek ini. Tapi kalau ada yang tidak sesuai, perbaiki. Ini sekolah unggulan, bukan bangunan coba-coba,” tegas Mikoz.

Hingga Jumat 25 September 2026, kepungan tiga hari itu belum dijawab. Perusahaan pelaksana bungkam. PPK bungkam. Konsultan pengawas bungkam.

Proyek Rp88 miliar itu terus berjalan. Di bawah hujan, di atas tanda tanya.

Hak jawab terbuka untuk semua pihak.

Berita Terkait