Samosir, warta.in – Peringatan Hari Ulos Nasional pada 17 Oktober 2026 menjadi momentum krusial untuk merefleksikan kain tenun khas Batak ini bukan sekadar lembaran kain, melainkan simbol persatuan, harga diri, dan motor penggerak ekonomi kreatif. Sejak ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda Indonesia pada tahun 2014, esensi perayaan tahun ini mengusung visi yang lebih relevan dengan tantangan zaman modern.
Berikut adalah tiga poin refleksi utama dalam menyambut Hari Ulos Nasional 2026:
1. Merawat Filosofi “Ulos Pangihot ni Holong”.
Ulos melambangkan kehangatan, perlindungan, dan berkat serta simbol kesatuan yang menyertai setiap fase kehidupan suku Batak, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, perayaan tahun ini mengajak generasi muda untuk kembali memaknai pepatah tradisional: “Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong”. Maknanya, jika ijuk mengikat pelepah pada batangnya, maka ulos harus menjadi pengikat kasih sayang dan kesatuan/persatuan antarsesama bangsa Indonesia.
2. Berpindah ke Panggung Dunia dan Ekonomi Kreatif.
Refleksi tahun 2026 membawa semangat baru melalui tema kolaboratif “Ulos untuk Indonesia: Warisan Leluhur, Kekuatan Ekonomi Masa Depan.” Ulos kini diarahkan untuk keluar dari stigma kain adat yang kaku dan bertransformasi menjadi aset nasional. Melalui pameran seperti pameran Wastra di Dinas Pariwisata Kota Medan hingga perhelatan internasional seperti The Batak Cultural Landscape di Antwerpen, ulos membuktikan diri mampu memeriahkan panggung diplomasi budaya sekaligus memperkuat ekonomi kreatif global.
3. Menjamin Kesejahteraan Partonun (Penenun).
Keberlanjutan budaya ulos berada sepenuhnya di jemari para partonun. Refleksi terdalam bagi pemerintah dan masyarakat adalah bagaimana meningkatkan harkat hidup, kesejahteraan, serta memberikan regenerasi pelatihan bagi para penenun di pedesaan. Tanpa adanya penghargaan ekonomi yang layak, generasi muda tidak akan tertarik melanjutkan profesi bernilai tinggi ini, dan keberadaan ulos asli hasil tenunan tangan terancam punah oleh tekstil buatan mesin.
Melalui langkah nyata dan apresiasi bersama, Hari Ulos Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ikhtiar kolektif untuk menjaga agar identitas Nusantara tetap hidup di wajah Indonesia yang modern (Kadiman Pakpahan – Penulis buku: “Batak Paripurna: perspektif beradat, bertuhan, dan bernegara”)



























