Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Rotua Wendeilyna Simarmata, Yuk Jaga Bumi, Kita Adalah Bagian Dari Alam/Environmental Identity.

Lumban Suhi Suhi Toruan, warta.in – Ketika Hutan Terbakar, Apa yang Terjadi pada Hati Kita?

Ada saat ketika saya melihat berita tentang kebakaran hutan di negeri ini dan hati saya terasa sedih.

Saya membayangkan satu per satu pohon yang mungkin telah tumbuh puluhan tahun, kemudian habis dalam hitungan waktu.

Di sana ada rumah bagi begitu banyak makhluk hidup.

Ada burung yang kehilangan tempat tinggal. Ada hewan yang harus melarikan diri. Ada kehidupan yang mungkin tidak pernah kita lihat, tetapi ikut menjadi korban.

Dan di saat yang sama, ada manusia yang mungkin terlibat karena kebutuhan hidup, ada yang mengambil keuntungan, ada yang memanfaatkan keadaan, dan ada pula yang mungkin melihat hutan hanya sebagai sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang terjadi di dalam hati manusia ketika keuntungan membuat kita tidak lagi mampu melihat kehidupan yang sedang kita hancurkan?

Ketika udara menjadi penuh asap dan membahayakan kesehatan.

Ketika hewan kehilangan habitatnya.

Ketika pohon-pohon yang membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh hilang dalam waktu singkat.

Ketika alam yang seharusnya menjadi rumah bersama berubah menjadi sumber penderitaan.

Saya tidak ingin menjadi hakim bagi siapa pun.

Saya juga tahu bahwa kehidupan manusia memiliki kebutuhan dan pergumulannya sendiri.

Tetapi saya percaya, kebutuhan tidak seharusnya membuat kita kehilangan kemanusiaan. Keuntungan tidak seharusnya membuat kita lupa bahwa bumi ini bukan hanya milik kita.

Bukankah kita semua hidup di rumah yang sama?

Bukankah manusia, hewan, tumbuhan, udara, air, dan tanah adalah bagian dari kehidupan yang saling terhubung?

Hari ini saya hanya mampu membawa kegelisahan ini dalam doa.

Saya menyerahkan negeri ini kepada penyelenggaraan Ilahi.

Semoga Tuhan menyentuh hati mereka yang memiliki kuasa, mereka yang mengambil keputusan, mereka yang mencari keuntungan, dan kita semua yang menikmati hasil dari bumi ini.

Semoga kita disadarkan bahwa menjaga kehidupan bukan hanya tanggung jawab orang lain.

Ketika kita menjaga alam, sesungguhnya kita sedang menjaga kehidupan—termasuk kehidupan kita sendiri.

Psikologi mengenal konsep environmental identity yaitu bagaimana seseorang memandang dirinya sebagai bagian dari lingkungan dan alam.

Ketika seseorang merasa terhubung dengan alam, ia cenderung lebih peduli terhadap dampak tindakannya terhadap lingkungan dan kehidupan lain.

Sebaliknya, ketika alam hanya dilihat sebagai objek untuk memenuhi kepentingan manusia, kepedulian dapat semakin berkurang.

Karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan aturan atau ekonomi. Ada bagian yang sangat manusiawi di dalamnya: *empati, tanggung jawab, dan kemampuan melihat akibat dari tindakan kita terhadap kehidupan yang lebih luas.*

Dr drh Rotua Wendeilyna Simarmata MSi CMed CPP CIJ CPW, mediator non hakim dan paralegal mengajak para pembaca media online, pada hari ini, coba berhenti sejenak dan lihat lingkungan di sekitar kita.

Tanyakan:

“Apa yang selama ini saya terima dari alam, tetapi jarang saya syukuri?”

Lalu lakukan satu tindakan kecil untuk menjaganya.

Tidak membuang sampah sembarangan.

Mengurangi sesuatu yang tidak perlu.

Menanam atau merawat tanaman.

Menghemat air dan energi.

Atau sekadar mengajarkan anak bahwa alam bukan benda mati yang bebas kita perlakukan sesuka hati.

Karena perubahan besar sering dimulai dari kesadaran kecil.

“Semoga kita tidak hanya memiliki hati yang mampu menikmati hasil bumi, tetapi juga hati yang mampu merasakan ketika bumi sedang terluka.”

Setiap langkah membawa kita semakin mampu menyalakan harapan, menumbuhkan makna, dan menjalani hidup dengan bijaksana (Sumber : Just Believe Ani Fegda Esensi)

Berita Terkait