Samosir, warta.in -“Keterbelakangan suatu bangsa merupakan masalah multidimensi yang mencakup kemiskinan, rendahnya kualitas SDM, kepemimpinan, penguasaan Iptek, dan ketimpangan sosial. Untuk itu perlu dibangun suatu langkah-langkah strategis agar berbagai persoalan mendasar yang dihadapi dapat teratasi dan mencapai siatu kemajuan.
Berikut adalah langkah-langkah strategis dan komprehensif untuk memutus mata rantai tersebut:
1. Transformasi dan pemerataan pendidikan, ini adalah modal utama untuk meningkatkan kualitas hidup dan daya saing global. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah, antara lain; menyediakan beasiswa dan sekolah gratis bagi masyarakat kurang mampu dan yang tinggal di daerah terpencil, mengintegrasikan pelatihan keterampilan kerja yang relevan dengan kebutuhan industri digital dan manufaktur modern, dan meningkatkan standarisasi kompetensi guru serta pemerataan fasilitas sekolah antara kota dan desa.
2. Pemberdayaan ekonomi dan lapangan kerja dengan menciptakan kemandirian ekonomi bagi masyarakat bawah, seperti; membuka koridor industri baru untuk menyerap tenaga kerja lokal skala besar., memberikan akses modal usaha mudah, subsidi, dan pelatihan digitalisasi bagi pelaku bisnis rakyat, dan menerapkan sistem pajak yang adil dan bantuan sosial tepat sasaran untuk memperkecil jurang ketimpangan kekayaan.
3. Pembangunan infrastruktur digital dan fisik, ketertinggalan geografis sering kali mengisolasi potensi ekonomi suatu wilayah, untuk itu dibutuhkan; memperluas jaringan internet agar masyarakat desa bisa mengakses informasi, edukasi, dan pasar global dan membangun jalan, pelabuhan, dan transportasi publik demi memangkas biaya distribusi barang.
4. Peningkatan kesehatan dan nutrisi, sebab bangsa yang maju membutuhkan populasi yang sehat dan produktif secara fisik, untuk itu perlu memastikan kecukupan gizi ibu hamil dan balita untuk mencegah penurunan kecerdasan generasi masa depan dan pemetataan pembangun puskesmas dan rumah sakit dengan fasilitas memadai di wilayah 3T
5. Reformasi birokrasi dan penegakan hukum dimana sistem pemerintahan yang bersih akan menjamin investasi dan anggaran negara tersalurkan dengan benar, untuk itu perlu langkah konkrit berupa; menindak tegas penyalahgunaan dana publik agar anggaran negara fokus pada pembangunan rakyat dan adanya penciptaan iklim investasi yang aman dan transparan guna menarik modal asing produktif.
Untuk memastikan dan agar dapat tercapai tujuan untuk memutus mata rantai keterbelakangan suatu bangsa maka perlu adanya perubahan cara berfikir dan penguatan karakter baik pemimpin maupun di akar rumput, sebab mempertahankan cara-cara lama yang normatif hanya akan menjebak bangsa dalam ketertinggalan. Ada pun poin-poin utamanya adalah sebagai berikut:
1. Beralih dari berpikir normatif ke berpikir out of the box, dimana pemikiran normatif atau sekadar mengikuti prosedur lama hanya menghasilkan perubahan kecil (inkremental). Untuk mengejar ketertinggalan bangsa membutuhkan lompatan besar lewat pemikiran radikal, sebab dunia berubah cepat akibat teknologi digital dan geopolitik. Aturan lama sering kali tidak relevan lagi, sehingga pemimpin dan masyarakat tidak boleh sekadar “cari aman” dan adanya terobosan baru dimana harus berani memotong jalur birokrasi yang berbelit-belit agar pembangunan berjalan cepat.
2. Mengikis “budaya bungkus” dan membangun “budaya isi”, melalui; membuang kebiasaan masyarakat atau pemimpin yang hanya mementingkan kemasan luar, penampilan formalitas, citra pencitraan, atau retorika kosong dan mengedepankan “budaya isi”, dengan meningkatkan kualitas moral, kompetensi nyata, kecerdasan intelektual, serta hasil kerja konkret.
3. Menggerakkan “kepedulian dan empati kecil” secara masif, dengan; tidak hanya mengandalkan program besar pemerintah tapi harus digerakkan secara bersama kepedulian kecil di tingkat akar rumput dan adanya langkah konkret yang dimulai dari berbagi ilmu, memberikan donasi tepat sasaran (seperti gerakan sadar gizi), hingga membuka kesempatan kerja bagi kelompok yang belum beruntung.
4. Melepaskan diri dari kutukan sumber daya (resource curse), sebab bangsa yang terbelakang sering kali terlena karena merasa kaya akan sumber daya alam tetapi malas mengasah otak. Struktur keterbelakangan diputus dengan cara menggeser ketergantungan dari bahan mentah alam menuju ketergantungan pada kreativitas, sains, teknologi, dan industri bernilai tambah tinggi.
5. Melahirkan pemimpin informal yang menggerakkan akar rumput sebab masih banyak masyarakat di daerah pelosok menganggap kemiskinan atau keterbatasan wawasan sebagai takdir yang harus diterima. Untuk itu, bangsa membutuhkan figur pemimpin informal yang mau turun langsung mengubah pola pikir pasrah tersebut menjadi pola pikir produktif dan mandiri (Penulis : Kadiman Pakpahan si Mr Dreamer)































