Lumban Suhi Suhi Toruan, warta.in — Di Desa Lumban Suhi Suhi Toruan, Dusun 3 Alngit, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, kini hadir seorang putri daerah yang membawa pulang ilmu luas dan pengalaman berharga demi melayani masyarakat. Beliau adalah Dr drh Rotua Wendeilyna Simarmata, MSi (CMed CPP CIJ CPW), akrab disapa Wendy — putri dari tokoh adat dan pensiunan hakim mantan Ketua Pengadilan Tinggi Manado, O.H. Simarmata SH.
Sekitar lima tahun lalu, di tengah pandemi COVID-19, Wendy mengambil keputusan yang jarang diambil orang: meninggalkan kehidupan dan pekerjaan di Jakarta, lalu pulang ke tanah leluhur di Samosir. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk mengabdikan segala ilmu yang dipelajarinya demi keadilan dan kemajuan masyarakat di tanah kelahiran orang tuanya.
🎓 Ilmu yang Melintasi Banyak Bidang
Wendy menyelesaikan pendidikan tingginya di berbagai universitas terkemuka:
– Dokter Hewan — Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
– Magister Sains (S2) — FISIP Universitas Indonesia, Jakarta
– Doktor Ilmu Pemerintahan (S3) — FISIP Universitas Padjadjaran, Bandung
Tak berhenti pada gelar akademik, Wendy terus memperluas keahlian lewat sertifikasi profesional:
– CMed — Mediator Bersertifikat
– CPP — Paralegal Profesional Bersertifikat
– CIJ — Jurnalis Indonesia Bersertifikat
– CPW — Penulis Profesional Bersertifikat
– Serta sertifikasi BNSP Pendamping UMKM dan Digital Marketing
Dari ilmu kedokteran hewan hingga pemerintahan, dari hukum hingga jurnalistik — Wendy memadukannya semua demi satu tujuan: melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya.
⚖️ Menjadi Jembatan Hukum bagi Warga
Selama menetap di Samosir, Wendy tampil dalam peran-peran yang sangat dibutuhkan masyarakat:
Mediator yang Siap Menempuh Jauh
Wendy terdaftar sebagai mediator non-hakim bersertifikat di Pengadilan Negeri Balige, Sei Rampah, Medan, Lubuk Pakam, Tebing Tinggi, Stabat, Binjai, Pematang Siantar, dan Simalungun. Sering kali beliau menempuh perjalanan berjam-jam, bahkan melewati jalan rusak, demi mendampingi warga mencapai perdamaian.
Pendamping Hukum yang Menjelaskan dengan Bahasa Sederhana
Banyak warga menghadapi sengketa tanah, waris, maupun masalah keluarga tanpa mampu menyewa pengacara. Di sinilah Wendy hadir — mendampingi, membantu menyusun surat, menjelaskan hak-hak mereka, dan mengajarkan bahwa hukum bukan hal yang perlu ditakuti, melainkan alat untuk melindungi hak setiap orang.
“Kehadiran paralegal diharapkan bisa mendekatkan akses keadilan. Saya bertugas membantu, mendampingi, dan mengedukasi agar masyarakat tidak takut dengan hukum.” — Dr drh Rotua Wendeilyna Simarmata MSi (CMed CPP CIJ CPW)
Bersiap Hadirkan Bantuan Hukum Gratis
Sebagai Pembina Yayasan Tarombo Dalihan Natolu, Wendy kini sedang bersiap mendirikan Lembaga Bantuan Hukum Tarombo Dalihan Natolu. Nantinya warga yang kurang mampu bisa mendapatkan bantuan hukum secara cuma-cuma — agar tidak ada seorang pun yang kehilangan haknya hanya karena tidak mampu membayar biaya pengacara.
🌏 Menjaga Warisan Leluhur dan Mendorong Kemandirian
Di samping bidang hukum, Wendy juga aktif melestarikan budaya dan mendampingi usaha warga:
– Mengkaji dan menulis tentang hukum adat Batak, khususnya hak kesulungan anak sulung dan tata cara pewarisan tanah sesuai aturan leluhur.
– Mendirikan PT Simarmata Wendeilyna Ulos, memproduksi ulos dengan desain terdaftar dan penuh makna budaya.
– Menulis dan mempublikasikan artikel di berbagai media, serta mengelola Tarombo TV Media — menyebarkan informasi hukum, budaya, dan nilai-nilai luhur kepada masyarakat luas.
💡 Makna Sebuah Kepulangan
Selama ini, warga Samosir harus menempuh perjalanan jauh ke Balige untuk urusan pengadilan — biaya perjalanan dan waktu menjadi beban berat. Belum lagi banyak yang belum memahami hak-haknya.
Wendy hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Ilmu yang beliau pelajari di Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung kini dibawa pulang dan disesuaikan dengan keadaan masyarakat Samosir. Wendy ingin membuktikan bahwa hukum negara dan adat leluhur bisa berjalan selaras, serta bahwa keadilan seharusnya bisa dijangkau oleh siapa saja — kaya maupun sederhana.
Dari Medan ke berbagai kota besar, lalu kembali ke tepian Danau Toba — perjalanan hidup Wendy mengajarkan satu hal: ilmu yang paling berharga adalah ilmu yang dikembalikan dan dimanfaatkan untuk tanah kelahiran dan sesama. Di Samosir, beliau bukan sekadar putri pulang kampung, melainkan pendamping hukum, pelindung budaya, dan teladan bagi generasi muda (red)





























